Perempuan sebagai Penjaga Warisan Budaya Bangsa
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa perempuan memiliki peran kunci dalam menjaga dan melestarikan budaya nasional. Dalam pandangannya, pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada kebijakan negara atau institusi formal, tetapi juga bertumpu pada proses pewarisan nilai yang berlangsung sejak dini di lingkungan keluarga—ruang di mana perempuan sering kali memegang peran sentral.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas berbagai data yang menunjukkan bahwa banyak unsur budaya Indonesia berada dalam kondisi rentan. Bahasa daerah, ritual adat, hingga seni pertunjukan tradisional menghadapi tantangan serius akibat perubahan sosial, tekanan ekonomi, dan minimnya regenerasi pelaku budaya.
Ancaman Nyata terhadap Keberlanjutan Budaya Lokal
Data internasional dan nasional menunjukkan bahwa situasi pelestarian budaya Indonesia membutuhkan perhatian segera. UNESCO melalui Atlas of the World’s Languages in Danger mencatat bahwa dari ratusan bahasa daerah yang ada di Indonesia, ratusan di antaranya masuk kategori terancam punah. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pembawa nilai, pengetahuan lokal, dan identitas kolektif suatu komunitas.
Di sisi lain, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat ratusan ritual adat skala besar terancam tidak lagi diselenggarakan. Faktor biaya, kompleksitas pelaksanaan, serta semakin terbatasnya tetua adat menjadi penyebab utama. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan dokumentasi, tetapi membutuhkan pewarisan aktif lintas generasi.
Perempuan dan Proses Transmisi Budaya Sejak Dini
Menurut Lestari Moerdijat, secara tradisi perempuan telah lama menjadi penjaga nilai budaya. Melalui cerita, bahasa ibu, praktik adat sehari-hari, hingga pengenalan ritual, perempuan mentransmisikan identitas budaya kepada anak-anak sejak usia dini. Proses ini berlangsung secara alami dan berkelanjutan, jauh sebelum anak mengenal pendidikan formal.
Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah arus globalisasi yang kerap mendorong homogenisasi budaya. Ketika nilai global lebih dominan dalam ruang publik dan digital, keluarga menjadi benteng terakhir pelestarian identitas lokal. Di sinilah peran perempuan menjadi strategis, bukan hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pendidik budaya.
Seni Tradisi dan Tantangan Regenerasi
Ancaman kepunahan juga mengintai seni pertunjukan tradisional. Asosiasi Dalang Indonesia melaporkan bahwa puluhan jenis wayang Nusantara berada dalam kondisi terancam. Minimnya minat generasi muda dan berkurangnya ruang pertunjukan membuat seni ini kehilangan regenerasi.
Lestari menilai, keterlibatan perempuan dapat menjadi solusi alternatif. Perempuan sebagai pendidik di keluarga dan komunitas dapat menumbuhkan apresiasi seni sejak dini, baik melalui pengenalan cerita rakyat, musik tradisional, maupun keterlibatan anak dalam kegiatan budaya lokal. Dengan demikian, regenerasi tidak hanya bergantung pada sanggar atau institusi seni, tetapi juga pada ekosistem keluarga dan komunitas.
Kolaborasi Pusat dan Daerah untuk Pelestarian Berkelanjutan
Rerie—sapaan akrab Lestari—menekankan bahwa upaya pelestarian budaya harus dilakukan secara kolaboratif. Pemerintah pusat dan daerah, komunitas adat, lembaga pendidikan, serta masyarakat sipil perlu membangun mekanisme yang saling menguatkan. Kebijakan pelestarian budaya idealnya tidak bersifat seremonial, tetapi berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Dalam kerangka ini, pemberdayaan perempuan harus menjadi bagian integral dari strategi pelestarian. Program pendidikan budaya, penguatan ekonomi kreatif berbasis tradisi, hingga dukungan terhadap komunitas perempuan pelaku budaya dapat memperluas dampak pelestarian secara nyata.
Budaya sebagai Fondasi Identitas dan Ketahanan Bangsa
Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi identitas dan ketahanan bangsa di masa depan. Hilangnya bahasa, ritual, atau seni tradisi berarti hilangnya cara pandang dan kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu. Lestari menilai, pelestarian budaya adalah investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia Indonesia.
Sebagai anggota Partai NasDem, Lestari juga mendorong agar isu pelestarian budaya mendapat tempat yang lebih kuat dalam agenda pembangunan nasional. Budaya harus dipandang sejajar dengan sektor lain seperti ekonomi dan infrastruktur, karena ia membentuk karakter dan jati diri bangsa.
Menjawab Tantangan dengan Langkah Strategis
Menghadapi berbagai ancaman tersebut, Lestari berharap para pemangku kepentingan dapat segera merealisasikan langkah-langkah strategis. Penguatan peran perempuan dalam pelestarian budaya tidak hanya relevan secara sosial, tetapi juga efektif secara struktural. Dengan memberdayakan perempuan sebagai agen transmisi budaya, pelestarian tidak berhenti pada satu generasi, melainkan terus berlanjut secara organik.
Pada akhirnya, keberhasilan menjaga kelestarian budaya Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa ini merawat nilai-nilai luhur warisan para pendahulu. Perempuan, dengan peran strategisnya di keluarga dan masyarakat, menjadi kunci penting dalam memastikan budaya Nusantara tetap hidup, relevan, dan bermakna bagi generasi mendatang.
Baca juga : 10 Tim NBA Tersukses Sepanjang Sejarah Berdasarkan Gelar
Cek Juga Artikel Dari Platform : capoeiravadiacao

