
ngobrol – Dalam sebuah diskusi mengenai kepemimpinan dan pengembangan diri, Abigail Limuria menekankan sebuah perspektif yang menarik bahwa kecerdasan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan kognitif, tetapi juga dari kerendahan hati. Sosok yang dikenal sebagai pendiri platform pemberdayaan ini berpendapat bahwa pribadi yang cerdas adalah mereka yang mampu mengakui bahwa mereka tidak mengetahui segala hal. Di era informasi yang serba cepat ini, banyak orang terjebak dalam rasa percaya diri berlebih yang justru menutup ruang untuk belajar hal-hal baru.
Menurut pandangan Abigail, terdapat beberapa alasan mengapa kerendahan hati menjadi indikator utama dari seseorang yang memiliki kecerdasan emosional dan intelektual yang tinggi:
- Keterbukaan Terhadap Perspektif Baru: Orang yang rendah hati tidak akan merasa terancam dengan pendapat yang berbeda. Mereka justru melihat perbedaan sebagai kesempatan untuk memperluas cakrawala berpikir dan memperbaiki kesalahan dalam logika mereka sendiri.
- Kemampuan untuk Mendengar Lebih Banyak: Seseorang yang cerdas memahami bahwa informasi lebih banyak didapat melalui proses mendengarkan daripada berbicara. Kerendahan hati memampukan seseorang untuk benar-benar menyerap aspirasi orang lain tanpa terburu-buru melakukan interupsi.
- Kesadaran Akan Batas Kemampuan: Mengenali batasan diri sendiri adalah bentuk kejujuran intelektual. Hal ini memungkinkan seseorang untuk bekerja sama dengan orang lain yang memiliki keahlian berbeda, sehingga tercipta kolaborasi yang jauh lebih efektif daripada bekerja sendirian.
- Ketangguhan dalam Menghadapi Kritik: Kerendahan hati membuat seseorang tidak mudah tersinggung saat mendapatkan masukan negatif. Mereka melihat kritik sebagai bahan evaluasi yang berharga untuk pertumbuhan pribadi di masa depan.
Abigail Limuria juga menyoroti bahwa di dunia kerja saat ini, perusahaan mulai mencari individu yang tidak hanya hebat secara teknis, tetapi juga memiliki sikap yang membumi. Seseorang yang cerdas namun arogan cenderung menciptakan lingkungan kerja yang toksik dan menghambat inovasi tim. Sebaliknya, pemimpin yang rendah hati mampu menginspirasi orang di sekitarnya untuk memberikan yang terbaik tanpa merasa tertekan oleh dominasi kekuasaan yang kaku.
Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa belajar menjadi rendah hati merupakan proses seumur hidup yang membutuhkan latihan kesadaran setiap hari. Dengan menanggalkan ego, kita justru memberikan ruang bagi diri kita untuk tumbuh lebih besar. Kecerdasan tanpa kerendahan hati hanya akan menjadi kesombongan yang membatasi potensi, sedangkan perpaduan keduanya akan menciptakan pribadi yang bijaksana dan mampu memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat. Abigail membuktikan bahwa untuk menjadi hebat, seseorang tidak perlu merasa paling tahu, melainkan harus selalu merasa haus akan ilmu dan perspektif orang lain.
