
ngobrol – Acara buka puasa bersama atau bukber di lingkungan kantor sering kali dianggap sebagai ajang santai untuk mempererat silaturahmi antar karyawan. Namun, di balik tawa dan hidangan yang tersaji, terdapat lapisan dinamika kuasa yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang. Bukber kantor bukanlah sekadar urusan makan malam biasa; ia merupakan perpanjangan dari struktur organisasi di mana setiap interaksi, posisi duduk, hingga topik pembicaraan mencerminkan posisi seseorang dalam hierarki perusahaan. Sering kali, ada pesan-pesan tersirat yang tidak terucapkan namun dapat dirasakan dengan jelas oleh para staf.
Dinamika kuasa yang terjadi dalam acara bukber kantor dapat diidentifikasi melalui beberapa aspek sosial berikut ini:
- Pemilihan Lokasi dan Penentuan Menu: Sering kali, keputusan mengenai di mana bukber diadakan didominasi oleh selera atau anggaran yang ditentukan oleh jajaran pimpinan, sementara staf level bawah hanya mengikuti tanpa memiliki ruang aspirasi yang cukup, mencerminkan kontrol otoritas yang halus.
- Formalitas di Balik Kesan Kasual: Meskipun tema acaranya santai, karyawan sering kali merasa tetap harus menjaga citra profesional. Ada ketakutan jika terlalu jujur atau terlalu santai dalam berbicara, hal itu dapat memengaruhi penilaian kinerja atau persepsi atasan terhadap mereka di hari kerja berikutnya.
- Struktur Posisi Duduk: Secara naluriah, orang cenderung berkelompok berdasarkan jabatan. Pimpinan biasanya berkumpul di satu area, sementara staf operasional di area lain. Pemisahan ini secara tidak langsung menegaskan kembali batas-batas kekuasaan yang seharusnya cair dalam momen kebersamaan.
- Kewajiban yang Terbungkus Undangan: Bagi sebagian karyawan, bukber kantor terasa seperti lembur yang tidak dibayar. Ketidakhadiran dalam acara ini sering dikhawatirkan akan dianggap sebagai bentuk ketidaksolidan atau kurangnya loyalitas terhadap perusahaan.
Memahami dinamika ini sangat penting bagi para manajer agar acara bukber benar-benar mencapai tujuannya dalam membangun moral tim. Dibutuhkan upaya nyata untuk menciptakan suasana di mana sekat-sekat jabatan bisa benar-benar dikesampingkan sejenak. Misalnya, dengan mencairkan suasana melalui permainan yang melibatkan lintas departemen atau memberikan ruang bagi karyawan untuk berbagi cerita di luar urusan pekerjaan tanpa merasa dihakimi.
Pada akhirnya, bukber kantor yang sukses adalah yang mampu membuat setiap karyawan merasa dihargai sebagai individu, bukan hanya sebagai roda penggerak bisnis. Komunikasi yang tulus dan empati dari pihak pimpinan menjadi kunci agar pesan “kebersamaan” yang diusung bukan sekadar slogan di spanduk acara. Dengan kesadaran akan dinamika kuasa ini, perusahaan dapat mengubah rutinitas tahunan ini menjadi momen transformasi budaya kerja yang lebih inklusif dan manusiawi bagi seluruh anggotanya.
