Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan wilayah sekitarnya diguncang dua kali gempa bumi dalam waktu kurang dari satu jam pada Minggu, 25 Januari 2026. Getaran gempa pertama dilaporkan terasa lebih kuat dibandingkan gempa susulan yang terjadi setelahnya.
Peristiwa tersebut sempat mengejutkan warga di sejumlah kabupaten, mulai dari Kulon Progo, Bantul, hingga sebagian wilayah Kota Yogyakarta. Meski tidak menimbulkan kerusakan berarti, gempa beruntun ini kembali mengingatkan masyarakat akan potensi aktivitas seismik di wilayah selatan Pulau Jawa.
Getaran Pertama Terasa Jelas di Kulon Progo
Salah satu warga Kulon Progo, Riski, mengaku merasakan guncangan pertama sekitar pukul 15.50 WIB. Saat itu, ia sedang berada di dalam rumah dalam kondisi santai.
“Posisi saya di dalam rumah, sedang duduk-duduk, tiba-tiba terasa ada guncangan. Lumayan kaget,” ujar Riski saat dihubungi.
Menurutnya, getaran terasa cukup jelas meski tidak sampai membuat barang-barang di rumah bergeser. Ia sempat berniat keluar rumah untuk memastikan kondisi sekitar, namun urung dilakukan karena situasi terlihat tetap tenang.
“Saya mau lihat ke luar, tapi enggak jadi. Tetangga juga tidak ada yang keluar rumah,” katanya.
Riski menambahkan, gempa kedua yang terjadi setelahnya hampir tidak ia rasakan. Menurutnya, perbedaan kekuatan getaran sangat terasa dibanding gempa pertama.
Warga Bantul Juga Rasakan Dua Kali Guncangan
Kesaksian serupa juga datang dari Eko, warga Kabupaten Bantul. Ia mengaku merasakan dua kali guncangan dalam selang waktu yang tidak terlalu lama.
“Yang pertama terasa cukup kuat, seperti ada hentakan. Yang kedua lebih lemah, bahkan hampir tidak terasa,” kata Eko.
Ia menyebut guncangan pertama membuat sebagian warga sempat berhenti beraktivitas sejenak. Namun situasi segera kembali normal karena gempa berlangsung singkat.
Meski demikian, sebagian warga mengaku tetap waspada, mengingat wilayah DIY memiliki riwayat gempa besar di masa lalu.
Data BMKG: Gempa Pertama Magnitudo 4,6
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa pertama terjadi pada pukul 15.51.24 WIB dengan kekuatan magnitudo 4,6.
Pusat gempa berada di laut pada koordinat 8,88 Lintang Selatan dan 110,24 Bujur Timur, atau sekitar 106 kilometer barat daya Gunungkidul, dengan kedalaman 10 kilometer.
Kedalaman yang tergolong dangkal inilah yang menyebabkan getaran gempa cukup terasa di wilayah daratan, meski magnitudonya tidak tergolong besar.
BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Gempa Kedua Bermagnitudo Lebih Kecil
Sekitar 50 menit setelah gempa pertama, wilayah DIY kembali diguncang gempa susulan. Gempa kedua terjadi pada pukul 16.41.52 WIB dengan kekuatan magnitudo 2,4.
Pusat gempa berada di koordinat 8,73 LS dan 110,27 BT, sekitar 90 kilometer barat daya Kabupaten Gunungkidul, dengan kedalaman 29 kilometer.
Karena magnitudo lebih kecil dan kedalaman lebih dalam, getaran gempa kedua dirasakan jauh lebih lemah oleh masyarakat. Bahkan, sebagian warga mengaku sama sekali tidak merasakannya.
Aktivitas Gempa di Selatan Jawa
BMKG menjelaskan bahwa wilayah selatan Pulau Jawa, termasuk DIY, memang tergolong aktif secara tektonik. Hal ini disebabkan oleh pertemuan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia yang terus bergerak.
Zona subduksi di selatan Jawa menjadi sumber utama gempa bumi yang kerap terjadi, baik gempa dangkal maupun gempa menengah.
Gempa dengan pusat di laut seperti yang terjadi kali ini merupakan fenomena yang cukup umum, meski tetap perlu diwaspadai oleh masyarakat.
Tidak Ada Laporan Kerusakan
Hingga beberapa jam setelah kejadian, belum ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa beruntun tersebut.
Pemerintah daerah dan BPBD DIY menyatakan masih melakukan pemantauan lapangan, terutama di wilayah pesisir selatan yang menjadi titik terdekat dengan pusat gempa.
Warga juga diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi.
BMKG Imbau Warga Tetap Waspada
BMKG mengimbau masyarakat agar selalu memperhatikan informasi resmi terkait aktivitas gempa bumi. Warga diminta tidak mudah percaya pada isu yang beredar di media sosial, terutama yang menyebutkan prediksi gempa susulan besar.
Masyarakat juga diingatkan untuk memastikan bangunan tempat tinggal dalam kondisi aman serta mengetahui jalur evakuasi apabila terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar.
Kesiapsiagaan dinilai penting mengingat wilayah DIY termasuk daerah rawan gempa.
Pengingat Pentingnya Kesiapsiagaan Bencana
Peristiwa dua gempa beruntun ini menjadi pengingat bahwa aktivitas seismik dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan.
Meski tidak menimbulkan dampak besar, kejadian ini kembali menegaskan pentingnya edukasi kebencanaan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa seperti Yogyakarta dan sekitarnya.
Dengan kesiapsiagaan yang baik, risiko dan kepanikan dapat diminimalkan apabila gempa dengan kekuatan lebih besar terjadi di kemudian hari.
Baca Juga : Kecelakaan Maut Cipularang, Pejabat Bekasi Tutup Usia
Cek Juga Artikel Dari Platform : beritabandar

