Kebakaran lahan gambut kembali melanda Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Hingga saat ini, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai sekitar 18 hektare dan tersebar di beberapa desa pada Kecamatan Johan Pahlawan serta Kecamatan Meureubo. Proses pemadaman menghadapi tantangan berat akibat cuaca panas ekstrem dan angin kencang yang terus bertiup dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut membuat api cepat menyebar dan sulit dikendalikan. Selain membakar vegetasi di permukaan, api juga menjalar hingga ke lapisan gambut di bawah tanah, yang dikenal memiliki karakter sulit dipadamkan dan berpotensi menyala kembali meski tampak sudah padam.
Api Menyebar di Dua Kecamatan
Berdasarkan pantauan di lapangan, kebakaran lahan gambut paling parah terjadi di Kecamatan Johan Pahlawan. Titik api terdeteksi di Desa Suak Raya, Desa Suke, serta Desa Lapang. Wilayah tersebut memiliki lapisan gambut yang cukup dalam sehingga api dapat merambat jauh di bawah permukaan tanah.
Sementara itu, di Kecamatan Meureubo, kebakaran terpantau di kawasan Alpen, Desa Ujong Tanoh Darat, serta Desa Pasi, Aceh Tenong. Asap putih pekat terlihat mengepul dari sela-sela tanah, menandakan masih adanya bara api aktif di bagian bawah gambut.
Sebagian besar lokasi kebakaran berada di lahan kosong dan semak belukar. Namun, kedekatannya dengan permukiman warga membuat situasi ini tetap berisiko tinggi.
Gambut Kering hingga Lima Meter
Kepala BPBD Aceh Barat, Ronald Nehdiansyah, menjelaskan bahwa kondisi gambut saat ini sangat kering akibat minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Kedalaman gambut di lokasi kebakaran bahkan mencapai lima meter.
“Api ini tidak hanya membakar di permukaan. Yang menjadi masalah utama adalah bara api di dalam tanah. Semakin dalam gambut, semakin sulit mendeteksi apakah api sudah benar-benar padam atau belum,” ujar Ronald.
Menurutnya, karakter gambut berbeda dengan tanah mineral biasa. Api bisa terus hidup di bawah tanah meskipun permukaan terlihat basah atau sudah disiram air.
Angin Kencang Perparah Situasi
Selain kondisi gambut yang kering, faktor angin kencang menjadi kendala utama dalam proses pemadaman. Tiupan angin menyebabkan api mudah berpindah dan kembali membesar di titik-titik yang sebelumnya sudah berhasil dipadamkan.
“Angin ini sangat menyulitkan. Kadang di permukaan sudah padam, tapi di dalam masih menyala. Begitu tertiup angin, api bisa muncul kembali,” jelas Ronald.
Situasi ini memaksa petugas harus melakukan pemadaman berulang di lokasi yang sama, sehingga membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.
Pemadaman Terkendala Peralatan Terbatas
Petugas gabungan dari BPBD Aceh Barat, TNI, Polri, serta masyarakat setempat terus berjibaku di lapangan. Namun, keterbatasan peralatan menjadi tantangan tersendiri.
Sebagian besar pemadaman masih dilakukan secara manual menggunakan mesin pompa air dan selang panjang. Akses menuju titik api juga tidak mudah karena lahan gambut bersifat lunak dan berair di beberapa bagian, sehingga kendaraan pemadam sulit menjangkau lokasi.
Sumber air menjadi persoalan lain, terutama di area yang jauh dari sungai atau parit. Petugas harus menarik selang hingga ratusan meter untuk menjangkau titik kebakaran.
Kabut Asap Mulai Ganggu Warga
Selain merusak lahan, kebakaran gambut ini juga mulai menimbulkan kabut asap yang menyelimuti sejumlah desa. Asap tipis hingga sedang terpantau pada pagi dan sore hari, terutama di wilayah sekitar lokasi kebakaran.
Warga mulai mengeluhkan gangguan pernapasan ringan seperti batuk dan iritasi mata. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia diminta untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.
Pemerintah daerah terus memantau kualitas udara untuk memastikan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Risiko Kebakaran Berulang Masih Tinggi
BPBD Aceh Barat menilai risiko kebakaran susulan masih cukup tinggi apabila cuaca panas dan angin kencang terus berlangsung. Lahan gambut yang belum sepenuhnya basah sangat mudah kembali terbakar, bahkan hanya akibat percikan kecil.
Oleh karena itu, petugas tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga melakukan pendinginan (cooling) di area bekas terbakar agar bara api benar-benar padam.
Upaya patroli rutin juga ditingkatkan untuk mencegah munculnya titik api baru.
Imbauan kepada Masyarakat
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama selama musim kemarau dan cuaca panas ekstrem.
Masyarakat juga diminta segera melapor apabila melihat asap atau titik api sekecil apa pun agar dapat segera ditangani sebelum meluas.
“Kebakaran gambut sangat sulit ditangani jika sudah besar. Pencegahan adalah langkah paling efektif,” tegas Ronald.
Ancaman Karhutla Masih Mengintai
Peristiwa kebakaran lahan gambut di Aceh Barat menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih nyata, terutama di wilayah dengan karakter gambut.
Tanpa hujan yang cukup dan dengan angin kencang, upaya pemadaman memerlukan waktu panjang serta koordinasi lintas instansi. Pemerintah daerah berharap adanya dukungan tambahan peralatan dan sumber daya jika kondisi terus memburuk.
Hingga saat ini, petugas masih terus berjaga di lokasi untuk memastikan api tidak kembali meluas dan dampak terhadap masyarakat dapat ditekan semaksimal mungkin.
Baca Juga : DIY Diguncang Dua Gempa Beruntun, Getaran Pertama Terasa Kuat
Cek Juga Artikel Dari Platform : rumahjurnal

