Perjalanan libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) menandai babak baru dalam kebiasaan mudik masyarakat Indonesia. Jika sebelumnya kendaraan berbahan bakar minyak masih mendominasi, kini kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mulai tampil sebagai pilihan utama untuk perjalanan jarak jauh. Kenyamanan berkendara, efisiensi biaya, serta dukungan infrastruktur pengisian daya yang semakin merata membuat perjalanan mudik dengan EV terasa lebih tenang dan menyenangkan.
Tren ini tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan secara konsisten mendorong percepatan ekosistem kendaraan listrik nasional. Momentum Nataru 2025–2026 menjadi bukti nyata bahwa perjalanan antarkota dengan mobil listrik kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan pengalaman yang benar-benar dapat dinikmati masyarakat luas.
Pengalaman Nyata Pemudik EV di Jalur Jawa
Salah satu pemudik yang merasakan langsung kenyamanan tersebut adalah Ufi Desi Fatmawati, pengguna kendaraan listrik asal Depok, Jawa Barat. Dalam perjalanan menuju Purwokerto, Jawa Tengah, ia mengaku tidak lagi diliputi rasa cemas seperti saat awal-awal menggunakan mobil listrik untuk perjalanan jauh.
Menurutnya, keberadaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di sepanjang jalur mudik menjadi faktor utama yang memberikan rasa aman. Rest area jalan tol hingga kantor-kantor PLN di jalur non-tol kini telah dilengkapi fasilitas pengisian daya, sehingga pengemudi tidak perlu khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan.
Hal serupa juga dirasakan David Sulistio, pemudik dari Jakarta Utara menuju Cirebon, Jawa Barat. Ia menilai pengalaman berkendara menggunakan mobil listrik jauh lebih nyaman dibandingkan mobil konvensional. Karakter EV yang senyap dan minim getaran membuat perjalanan panjang terasa lebih rileks, terutama saat menghadapi kepadatan lalu lintas.
“Perjalanan lebih smooth, getaran hampir tidak terasa. Dari rumah sudah isi penuh, sampai tujuan masih tersisa sekitar 50–60 persen,” ungkapnya saat mengisi daya di SPKLU Center Cirebon.
Pengalaman positif ini menunjukkan bahwa kekhawatiran soal jarak tempuh (range anxiety) perlahan mulai berkurang, seiring meningkatnya keandalan teknologi baterai dan ketersediaan infrastruktur pengisian.
Efisiensi Biaya Jadi Daya Tarik Tambahan
Selain kenyamanan, aspek efisiensi juga menjadi pertimbangan penting pemudik memilih kendaraan listrik. Ismanto, pengguna EV yang melakukan perjalanan dari Indramayu ke Cirebon, menilai biaya operasional mobil listrik jauh lebih terjangkau dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.
Dengan dukungan fasilitas fast charging, waktu pengisian daya pun tidak lagi menjadi hambatan. Ia mengaku tidak perlu mengisi baterai hingga penuh, cukup 30–40 kWh untuk melanjutkan perjalanan. Pola ini dinilai lebih praktis dan efisien, terutama saat singgah di rest area yang ramai pada puncak arus mudik.
Kombinasi antara biaya energi yang lebih murah, perawatan yang relatif minim, serta pengalaman berkendara yang nyaman membuat EV semakin relevan sebagai kendaraan mudik keluarga.
Lonjakan Pengguna EV Saat Nataru
Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik tercermin dari proyeksi jumlah pemudik EV roda empat pada periode Nataru 2025–2026. Jika pada Nataru sebelumnya tercatat sekitar 12 ribu unit kendaraan listrik, tahun ini jumlahnya diperkirakan melonjak hingga sekitar 26 ribu unit, atau meningkat lebih dari dua kali lipat.
Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa kendaraan listrik telah memasuki fase adopsi massal, khususnya untuk kebutuhan perjalanan jarak jauh. Keputusan masyarakat memilih EV bukan lagi didorong oleh faktor tren semata, melainkan pertimbangan rasional terkait kenyamanan, efisiensi, dan keberlanjutan.
PLN Perkuat Infrastruktur SPKLU Nasional
Mengantisipasi peningkatan signifikan tersebut, PT PLN (Persero) melakukan penguatan infrastruktur pengisian daya secara masif. Langkah ini menjadi kunci agar perjalanan mudik dengan kendaraan listrik tetap berjalan lancar dan bebas hambatan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur menjadi prioritas utama selama periode siaga Nataru. PLN menambah jumlah SPKLU hingga mencapai 4.516 unit yang tersebar di 2.935 titik strategis di seluruh Indonesia.
Khusus di jalur mudik utama Sumatra–Jawa–Bali, PLN menyiapkan 1.515 unit SPKLU yang tersebar di 865 lokasi strategis, baik di ruas tol maupun non-tol. Jarak antarlokasi rata-rata sekitar 22 kilometer, dirancang untuk meminimalkan potensi antrean dan memastikan pengemudi selalu memiliki opsi pengisian daya terdekat.
Tak hanya itu, PLN juga menyiagakan 15 unit SPKLU mobile untuk merespons kondisi darurat di jalur-jalur krusial. Lebih dari 5.000 petugas SPKLU disiagakan selama 24 jam penuh, memastikan layanan pengisian daya tetap optimal di tengah lonjakan mobilitas masyarakat.
Mudik EV sebagai Cerminan Transisi Energi
Fenomena meningkatnya pemudik kendaraan listrik pada Nataru 2025–2026 bukan sekadar perubahan preferensi transportasi, melainkan cerminan transisi energi nasional yang mulai terasa dampaknya di tingkat masyarakat. Perjalanan mudik, yang selama ini identik dengan konsumsi BBM tinggi, kini perlahan bertransformasi menjadi aktivitas yang lebih ramah lingkungan.
Dengan emisi yang lebih rendah, kendaraan listrik berkontribusi pada pengurangan polusi udara, terutama di jalur-jalur padat selama musim liburan. Hal ini sejalan dengan target jangka panjang Indonesia dalam menurunkan emisi karbon sektor transportasi.
Menuju Mudik Masa Depan yang Lebih Hijau
Pengalaman mudik Nataru 2025–2026 menunjukkan bahwa kendaraan listrik telah siap menjadi bagian dari mobilitas jarak jauh di Indonesia. Dukungan infrastruktur SPKLU yang semakin luas, kesiapan operator listrik, serta respons positif dari pengguna menjadi fondasi kuat bagi masa depan transportasi nasional.
Ke depan, tantangan bukan lagi soal “bisa atau tidak” mudik dengan mobil listrik, melainkan bagaimana terus meningkatkan kualitas layanan, mempercepat pengembangan teknologi baterai, dan memastikan akses pengisian daya yang merata hingga ke daerah-daerah non-utama.
Dengan langkah-langkah tersebut, mudik bukan hanya menjadi perjalanan pulang kampung, tetapi juga simbol pergeseran menuju mobilitas yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan bagi Indonesia.
Baca Juga : Seru dan Menantang! River Tubing Malang Favorit Akhir Tahun
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : radarbandung

