Banjir Tinggalkan Luka dan Trauma Warga
Bencana banjir yang melanda Kota Medan pada akhir November lalu tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga luka batin bagi masyarakat terdampak. Air yang datang secara tiba-tiba merendam rumah-rumah warga, menghanyutkan perabot, serta melumpuhkan aktivitas keseharian selama beberapa hari. Banyak keluarga harus bertahan di tengah keterbatasan, sambil berupaya memulihkan kembali kehidupan mereka pascabanjir.
Di sejumlah wilayah, banjir juga menimbulkan trauma, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Kekhawatiran akan banjir susulan masih membayangi warga, khususnya yang tinggal di kawasan dekat aliran sungai. Kondisi inilah yang mendorong berbagai elemen masyarakat untuk turun tangan memberikan bantuan dan dukungan moral.
Kepedulian Lintas Organisasi Keagamaan
Di tengah situasi tersebut, kepedulian dan solidaritas kemanusiaan terus mengalir. Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia Sumatera Utara (Permabudhi Sumut), Wong Chun Sen Tarigan, bersama Ketua Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia Sumatera Utara (Matresia Sumut), Budi Malem, kembali turun langsung ke lapangan untuk menyalurkan bantuan kepada warga korban banjir.
Keduanya mendatangi Kelurahan Helvetia Timur, Kecamatan Medan Helvetia, pada Minggu sore. Kehadiran para tokoh lintas organisasi ini menjadi simbol nyata bahwa kepedulian kemanusiaan melampaui sekat agama dan latar belakang.
Turun Langsung Menyapa Warga Helvetia Timur
Sebelum pembagian bantuan dilakukan, Wong Chun Sen Tarigan dan Budi Malem menyempatkan diri berdialog langsung dengan warga. Mereka menyampaikan rasa duka dan empati mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat, khususnya warga Helvetia Timur yang terdampak cukup parah akibat banjir.
Wong Chun Sen menyampaikan bahwa sejak awal bencana, Permabudhi dan Matresia Sumut bersama para donatur telah berkomitmen untuk terus bergerak menyalurkan bantuan ke berbagai titik terdampak banjir di Medan.
“Hari ini kami sengaja hadir di Kelurahan Helvetia Timur untuk berbagi paket sembako kepada bapak dan ibu sekalian yang terkena musibah banjir beberapa waktu lalu. Kami melihat wilayah ini sangat dekat dengan aliran sungai sehingga rawan banjir. Namun, banjir kemarin benar-benar di luar dugaan kita semua,” ujarnya di hadapan warga.
Bantuan Sembako untuk Ringankan Beban Harian
Puluhan paket sembako disalurkan kepada warga yang terdampak banjir. Setiap paket berisi kebutuhan pokok seperti beras, gula, teh bubuk, mi instan, dan minyak goreng. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah proses pemulihan pascabanjir.
Menurut Wong Chun Sen, bantuan ini memang tidak dapat menggantikan kerugian materi yang dialami warga. Namun setidaknya, kehadiran bantuan sembako diharapkan mampu meringankan beban ekonomi keluarga dalam beberapa hari ke depan.
“Semoga bantuan ini bermanfaat dan bisa sedikit membantu kebutuhan harian bapak dan ibu sekalian. Kami berharap masyarakat tetap kuat dan tabah menghadapi cobaan ini,” tambahnya.
Pesan Penguatan dan Harapan Baru
Selain menyalurkan bantuan logistik, Wong Chun Sen dan Budi Malem juga menyampaikan pesan penguatan kepada warga agar tetap optimistis menatap masa depan. Mereka mengajak masyarakat untuk saling mendukung, menjaga kebersamaan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, mengingat kondisi cuaca yang masih tidak menentu.
Dalam kesempatan tersebut, Wong Chun Sen juga menyampaikan ucapan Selamat Hari Natal kepada warga yang merayakan, serta selamat menyambut Tahun Baru. Pesan ini disampaikan sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan dalam keberagaman.
“Kami juga mengucapkan Selamat Hari Natal 25 Desember dan selamat menyambut Tahun Baru. Semoga ke depan kita semua diberikan kesehatan, keselamatan, dan kekuatan untuk bangkit bersama,” tuturnya.
Solidaritas sebagai Kekuatan Bangkit Pascabencana
Aksi kemanusiaan yang dilakukan Permabudhi dan Matresia Sumut ini menjadi pengingat bahwa solidaritas sosial adalah salah satu kunci penting dalam pemulihan pascabencana. Kehadiran langsung para tokoh dan relawan di tengah masyarakat terdampak memberikan dampak psikologis positif bagi warga, bahwa mereka tidak sendiri menghadapi cobaan.
Warga penerima bantuan pun menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian yang diberikan. Bagi mereka, bantuan sembako dan perhatian yang diberikan menjadi suntikan semangat untuk kembali menata kehidupan setelah banjir mereda.
Komitmen Terus Berbagi untuk Kemanusiaan
Permabudhi dan Matresia Sumut menegaskan bahwa aksi berbagi ini bukan yang terakhir. Mereka berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan para donatur, relawan, serta pihak terkait guna memastikan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Di tengah tantangan bencana alam yang kerap datang tanpa peringatan, langkah kolaboratif lintas organisasi dan lintas iman seperti ini diharapkan dapat menjadi contoh positif bagi masyarakat luas. Kepedulian, empati, dan gotong royong menjadi fondasi penting dalam membangun kembali harapan dan ketahanan sosial di tengah musibah.
Bagi warga Helvetia Timur, bantuan ini bukan sekadar paket sembako, melainkan simbol bahwa kemanusiaan tetap hidup dan hadir di saat-saat paling sulit.
Baca Juga : Wakapolri Pastikan Pemulihan Infrastruktur Pascabanjir Dipercepat
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : radarbandung

